PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBANTUAN KOMPUTER DENGAN MEDIA CHEMO-EDUTAINMENT DALAM UPAYA
MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SIFAT-SIFAT KOLIGATIF
LARUTAN
Cianny Avolita Marpaung*
*
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan, Jl Willem Iskandar,
Psr V Medan Estate 20221, email: sianidaavolita@gmail.com
Abstrak
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Untuk mengetahui penerapan pembelajaran berbantuan komputer dengan media chemo-edutainment dalam upaya
meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada materi sifat-sifat koligatif
larutan. (2)Untuk mengetahui penerapan pembelajaran berbantuan komputer dengan
media powerpoint dalam upaya
meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada materi sifat-sifat koligatif
larutan.(3) Untuk mengetahui perbedaan minat dan hasil belajar siswa pada
materi pelajaran sifat-sifat koligatif larutan yang disampaikan melalui
pembelajaran berbantuan komputer dengan media chemo-edutainment dan media powerpoint
bila dibandingkan dengan metode konvensional ceramah. (4)Untuk menemukan
langkah dan pengembangan yang tepat yang harus dilakukan untuk memperbaiki
pembelajaran berbantuan komputer dengan media chemo-edutainment dan media powerpoint
sehingga skema pembelajaran kimia dapat diperbaiki dalam meningkatkan minat
dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kimia khususnya pada materi
sifat-sifat koligatif larutan. Metode penelitian
merupakan penelitian eksperimen menggunakan media powerpoint, media chemo-edutainment. Dari hasil pengolahan data disimpulkan penggunan media sangat
efektif dalam menningkatkan prestasi hasil belajar siswa. Dan temuan lain dalam
penelitian ini adalalah bahwa siswa yang memiliki minat belajar tinggi
memiliki prestasi belajar lebih tinggi dibanding siswa yang motivasi belajarnya
rendah. Diharapkan dapat menggunakan media berbasis komputer dalam pembelajaran
praktikum untuk materi ataupun mata pelajaran lainnya.
Kata Kunci: Media Pembelajaran, Media Cemo-edutainment, Media
Powerpoint, Sifat Koligatif Larutan, Hasil Belajar, Minat, siswa SMA
Pendahuluan
Pembaharuan di
bidang pendidikan terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan,
terutama dalam meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif dan berusaha
menemukan konsep sendiri dalam proses pembelajaran di semua mata pelajaran
termasuk kimia. Guru sebagai fasilitator dan pendorong siswa untuk menggunakan
keterampilan proses serta menerapkan inovasi model pembelajaran sehingga
pembelajaran kimia mampu mengembangkan life skill yang merupakan implementasi
dari kurikulum KTSP.
Mutu pendididikan IPA,
berkaitan dengan banyak faktor antara lain kompetensi guru, efektivitas proses
pembelajaran, ketersediaan fasilitas pendidikan serta tingkat motivasi belajar
siswanya. Mata pelajaran kimia di SMA/MA bertujuan untuk membentuk sikap
yang positif pada diri siswa terhadap kimia yaitu merasa tertarik untuk
mempelajari kimia lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan
perilaku alam serta kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam
dan penerapannya dalam teknologi.
Berdasarkan
pengalaman para pendidik, hal yang sering dijumpai adalah bahwa banyak siswa
menganggap mata pelajaran kimia sulit dipelajari, sehingga siswa sudah memiliki
konsep berfikir kurang mampu untuk mempelajari kimia. Hal ini mungkin
disebabkan karena pola penyajian yang kurang menarik, membosankan, sulit dan
menakutkan, serta bersifat abstrak, sehingga siswa kurang berminat untuk
mempelajarinya.
Pada kenyataannya dalam
dunia pendidikan memperlihatkan bahwa pembelajaran pada umumnya bersifat
ekspositoris, verbalistik dan cenderung hanya menggunakan papan tulis, kurang
upaya untuk melakukan demonstrasi, eksperimen dan bentuk peragaan lainnya dalam
pembelajaran. Metode
mengajar di sekolah dasar sampai perguruan tinggi masih monoton menggunakan
metode mengajar secara informatif, pengajar lebih banyak berbicara dan
bercerita untuk menginformasikan semua fakta dan konsep sedangkan siswa hanya
sebagai obyek pembelajaran saja. Dari fakta tersebut jelas bahwa siswa hanya
mendapat sebatas pengetahuan yang nantinya akan terukur dalam penilaian
kognitif saja. Padahal dalam pembelajaran siswa dituntut untuk mencapai
ketuntasan belajar yang dicerminkan oleh nilai kognitif, nilai afektif dan nilai
psikomotorik. Nilai psikomotorik bisa diambil dari nilai praktikum siswa
sedangkan afektif dari tingkah laku siswa sehari-hari .
Salah satu materi pokok
yang banyak kaitannya dengan kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai
peristiwa alam dalam silabus kimia adalah Sifat Koligatif Larutan dan Elektrokimia.
Kedua materi tersebut merupakan konsep yang selalu ada dalam kurikulum ilmu
kimia. Siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari sifat koligatif larutan dan
konsep elektrokimia karena kedua materi tersebut bersifat abstrak (Baharudin,
2000). Disamping itu pembelajaran kedua materi tersebut yang dilakukan
selama ini lebih banyak menggunakan metode ceramah dimana dengan materi yang
cukup abstrak, umumnya menjadi beban bagi siswa. Oleh karena itu, perlu
dicari alternatif model pembelajaran yang dapat meminimalkan beban hafalan dan
lebih meningkatkan minat belajar pada siswa, yaitu dengan cara pemanfaatan
media komputasi. Sehingga dengan melakukan pembelajaran dengan
pemanfaatan media komputasi ini, siswa diharapkan dapat lebih mudah memahami
materi sifat koligatif larutan dan konsep elektrokimia.
Peserta belajar dengan
kemampuan yang bervariasi adalah umum dijumpai pada suatu proses
pembelajaran. Kemampuan yang bervariasi dapat berupa perbedaan kesanggupan,
keterampilan, intelegensi, potensi dan pengetahuan awal dalam mengikuti proses
belajar. Kemampuan peserta yang bervariasi pada suatu pembelajaran
ditunjukkan oleh hasil belajar yang bervariasi.
Salah satu penyebab
kegagalan siswa dalam proses pembelajaran adalah karena siswa tidak pernah
dirangsang untuk mencari, menemukan, dan mengeksplorasi sehingga siswa dapat
belajar tidak hanya di sekolah namun juga dapat menggunakan alam semesta,
lingkungan dan teknologi yang ada di sekitarnya.
Pemanfaatan media
komputasi ini pada dasarnya merupakan suatu cara pembelajaran yang bertujuan
untuk menarik minat belajar siswa dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa
melalui pengamatan terhadap materi yang ditampilkan melalui gambar-gambar slide
pada layar LCD sehingga siswa dapat terlatih untuk mengeluarkan pendapat
berdasarkan pengamatan mereka pada layar LCD. Dimana menurut
Henderleiter, J dan Pringle, DL (1999), dari pengamatan langsung inilah siswa
dapat menggali sendiri suatu konsep yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran
dan bahkan lebih dari itu, yaitu menimbulkan suatu sikap yang positif terhadap
sains (ilmu pengetahuan) disamping tumbuhnya jiwa kooperatif serta
tanggung jawab pada diri siswa, dan dengan demikian hasil belajar siswa-pun
akan meningkat.
Pembelajaran Berbantuan Komputer
Menurut von Glaserfeld, pembelajaran adalah membantu
seseorang berfikir secara benar dengan membiarkan berfikir sendiri.
Berfikir yang baik lebih penting daripada mempunyai cara berfikir yang baik,
berarti cara berfikirnya dapat digunakan untuk menghadapi suatu fenomena baru,
akan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan yang lain.
Siswa yang sekedar menemukan jawaban benar belum pasti dapat memecahkan
persoalan baru karena mungkin ia tidak mengerti bagaimana menemukan jawaban
itu.
Pembelajaran bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan
dari guru kepada siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa
membangun sendiri pengetahuannya. Pembelajaran berarti partisipasi guru
bersama siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan,
bersikapkritis dan mengadakan justifikasi. Jadi, pembelajaran adalah
suatu bentuk belajar sendiri.
Komputasi sebenarnya dapat diartikan sebagai cara untuk
menemukan pemecahan masalah dari data input dengan menggunakan suatu
algoritma. Sedangkan kimia komputasi adalah cabang kimia yang menggunakan
hasil kimia teori yang diterjemahkan ke dalam program komputer untuk menghitung
sifat-sifat molekul dan perubahannya maupun melakukan simulasi terhadap sistem-sistem
besar (makromolekul seperti protein atau sistem banyak molekul seperti
gas, cairan, padatan, dan kristal cair), dan menerapkan program tersebut pada
sistem kimia nyata. Istilah kimia komputasi kadang-kadang
digunakan juga untuk bidang-bidang tumpang tindih antara ilmu komputer dan
kimia (Wikipedia).
Penggunaan komputer dalam pembelajaran kimia sangat
menguntungkan karena dapat memberikan kesempatan yang luas kepada siswa dan
guru untuk mengembangkan kemampuannya dalam investigsi dan analisis sekaligus
dapat membentuk pengetahuan dan pemahaman yang baru dalam melihat suatu
permasalahan, serta mendapatkan cara pemecahan masalah melalui pembelajaran.
(Hamda Situmorang, 2006). Sebagai media pendidikan, penggunaan komputer
bertujuan untuk membantu proses pembelajaran agar materi pelajaran mudah
dicerna dan diingat, sehingga memberikan kesan pmbelajaran yang lebih lama.
Media Chemo-Edutainment
Chemo-edutainment, merupakan suatu proses belajar mengajar kimia yang dikemas ke
dalam media yang inovatif dan menghibur (Supartono, 2006: 12). Media chemo-edutainmen merupakan salah satu pendekatan pembelajaran
kimia yang mana di dalamnya dimasukkan unsur-unsur yang
bersifat menghibur sehingga dalam
belajar kimia siswa merasa senang. Hal ini dapat dilakukan
misalnya dengan memasukkan kalimat-kalimat yang agak lucu, satire, ataupun dengan ilustrasi yang lucu tetapi tetap
memperhatikan aspek kimia
yang sedang dibahas. Dengan penggunaan media komputer dalam pembelajaran chemo-edutainment tersebut dapat dimasukkan unsur musik dan juga
animasi-animasi yang akan semakin menarik minat belajar siswa. Timbulnya rasa
senang ini akan mendorong siswa untuk belajar kimia secara lebih mendalam
(Priatmoko, 2007:3). Pada akhirnya
diharapkan hasil belajar yang
dicapai oleh siswa
lebih meningkat dibanding sebelumnya.
Media Powerpoint
Microsoft Power Point merupakan
sebuah software yang dibuat dan dikembangkan oleh perusahaan Microsoft, dan
merupakan salah satu program berbasis multi media (Sry, 2009). Didalam
komputer, biasanya program ini sudah dikelompokkan dalam program Microsoft
Office. Program ini dirancang khusus untuk menyampaikan presentasi, baik yang
diselenggarakan oleh perusahaan, pemerintahan, pendidikan, maupun perorangan,
dengan berbagai fitur menu yang mampu menjadikannya sebagai media komunikasi
yang menarik.
Beberapa hal yang menjadikan media ini menarik untuk digunakan
sebagai alat presentasi adalah berbagai kemampuan pengolahan teks, wana, dan
gambar, serta animasi-animasi yang bisa diolah sendiri sesuai kreatifitas
penggunanya. Pada prinsipnya program ini terdiri dari beberapa unsur rupa, dan
pengontolan operasionalnya. Unsur rupa yang dimaksud, terdiri dari slide, teks,
gambar dan bidang-bidang warna yang dapat dikombinasikan dengan latar belakang
yang telah tersedia. Unsur rupa tersebut dapat kita buat tanpa gerak, atau
dibuat dengan gerakan tertentu sesuai keinginan kita. Seluruh tampilan dari
program ini dapat kita atur sesuai keperluan, apakah akan berjalan sendiri
sesuai timing yang kita inginkan, atau berjalan secara manual, yaitu dengan
mengklik tombol mouse. Biasanya jika digunakan untuk penyampaian bahan ajar
yang mementingkan terjadinya interaksi antara peserta didik dengan tenaga
pendidik, maka kontrol operasinya menggunakan cara manual.
Minat dan Hasil Belajar
Secara bahasa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990) minat berarti
“kecenderungan
hati yang
tinggi terhadap sesuatu. Minat merupakan sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat besar sekali pengaruhnya terhadap kegiatan seseorang sebab dengan minat ia akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu.
Sardiman A. M (1998), berpendapat bahwa “minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau
kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
Sedangkan belajar menurut bahasa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990) adalah usaha (berlatih) dan sebagai upaya
mendapatkan kepandaian. Sedangkan menurut istilah yang dipaparkan
oleh
beberapa ahli, belajar adalah “Suatu proses di mana
suatu tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki
melalui serentetan
reaksi
atas
situasi
(atau rangsang)
yang terjadi.
Nana
Sudjana (Sudjana, 1987) mengatakan, belajar adalah proses
yang
aktif, belajar adalah
mereaksi
terhadap semua situasi yang ada
di
sekitar individu. Belajar adalah
proses yang diarahkan
kepada
tujuan,
proses berbuat melalui
berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu.
Berdasarkan pengertian
minat dan belajar yang telah diuraikan, maka dapt disimpulkan bahwa minat belajar adalah sesuatu keinginan atau kemauan yang disertai perhatian dan keaktifan
yang disengaja yang
akhirnya melahirkan rasa senang
dalam perubahan
tingkah laku, baik berupa pengetahuan,
sikap dan keterampilan.
Kegiatan dan
usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku merupakan proses belajar sedangkan
perubahan tingkah laku yang diamati dan diukur merupakan hasil belajar. Hasil
belajar dan proses belajar saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Didalam
belajar terjadi proses berpikir. Seseorang dikatakan berpikir bila orang itu
melakukan kegiatan mental. Dalam kegitan mental itu orang menyusun
hubungan-hubungan antara bagian informasi yang telah diperoleh sebagai
pengertian dan inilah yang dinamakan hasil belajar. Menurut Herman Hudojo
(1988: 144) bahwa “Hasil belajar adalah penguasaan hubungan-hubungan yang telah
diperoleh sehinggga orang itu dapat menampilkan pengalaman dan penguasaan bahan
pelajaran yang dipelajari”.
Hasil
belajar siswa adalah merupakan hasil belajar yang diperoleh siswa dari
usaha-usaha yang dilakukan siswa dalam mempelajari pelajaran tertentu. Pada
umumnya hasil belajar merupakan salah satu indikator keberhasilan siswa,
keberhasilan mengajar guru serta kualitas sekolah yang dapat diukur dengan skor
atau nilai. Dari pengertian hasil belajar diatas dapat dinyatakan bahwa hasil
belajar merupakan suatu tingkat penguasaan siswa terhadap pelajaran yang
diperoleh dengan cara usaha atau keuletan baik secara individu maupun kelompok.
Sifat-sifat Koligatif Larutan
Salah satu cara menyatakan
konsentrasi larutan adalah kemolaran (M). Kemolaran menyatakan jumlah mol
zat terlarut dalam satu liter larutan. Satuan kemolaran adalah mol/L,
dengan rumusan : M = n/V
Pada pembahasan sifat
koligatif, digunakan dua jenis konsentrasi yang lain yaitu : (a) Kemolalan (m),
(b) Fraksi Mol (X)
Sifat koligatif larutan
adalah sifat-sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut,
melainkan hanya bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarutnya.
Istilah koligatif berasal dari bahasa Latin yang berarti kolega atau
kelompok. Sifat koligatif meliputi penurunan tekanan uap (ΔP), kenaikan
titik didih (ΔTb), penurunan titik beku (ΔTb) dan tekanan osmotik (π).
Zat terlarut dengan jumlah
mol yang sama tidak selalu menghasilkan jumlah partikel yang sama di dalam
larutan. Adakalanya beberapa molekul atau partikel zat terlarut
mengelompok, sehingga jumlah partikel menjadi lebih sedikit dari yang
diperkirakan. Di lain pihak, khususnya untuk larutan elektrolit, jumlah
partikel di dalam larutan akan lebih banyak karena zat elektrolit terurai
menjadi ion-ion. Jadi, sifat koligatif larutan elektrolit akan berbeda
dengan sifat koligatif larutan nonelektrolit, meski jumlah mol zat terlarutnya
sama.
Metode Penelitian
Sebagai populasi adalah siswa SMA
Negeri 3 Pematangsiantar kelas XII IPA. Sampel siswa dipilih dari 6 kelah
seanyak 2 kelas secara simple random
sampling. Instrumen penelitian adalah media komputer dan media konvensional
ceramah sebagai kontrol. Alat pengumpul data adalah evaluasi belajar (soal-soal
kimia berbentuk pilihan berganda) teridir atas (1) evaluasi pendahuluan, (2)
evaluasi akhir pertama, dan (3) evaluasi akhir kedua.
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan kelas (Class-room
Action Research) yang mengikuti prosedur penelitian yang direncanakan
mencakup kegiatan Perencanaan (Planning);
Tindakan (Action); Observasi (Observation); Refleksi (Reflektion) atau evaluasi.
Data berupa hasil belajar siswa (skor)
yang diperoleh dari hasil evaluasi untuk kelompok eksperimen pengajaran
menngunakan media chemo-edutainment, dan
kelompok kontrol yang diberikan pengajara menggunakan Metode Ceramah tanpa
disertai dengan penggunaan media pembelajaran selanjutnya akan dikelolah secara
statistik menggunkan software SPSS
untuk menarik kesimpulan. Data akan ditabulasi berdasarkan sumber, dan hasil
analisis akan dirangkum dalam bentuk tabel untuk memudahkan di dalam penarikan
kesimpulan hasil penelitian.
Hasil dan Pembahasan
Hasil dan Pembahasan
Pencapaian siswa Pada
Evaluasi Pendahuluan dan Uji Homogenitas Sampel
Agar
hasil penelitian yang diharapkan dapat tercapai, telah dilakukan penelitian di
kelas XII SMA Negeri 3 Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia. Pemilihan
sampel dilakukan secara simple random sampling, yaitu diambil secara acak dari
6 kelas XII IPA sebanyak 2 kelas sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Jumlah sampel di setiap kelas ada 50 siswa.
Untuk
mengukur kemampuan pengetahuan siswa dan tingakt penguasaan materi terhadap materi Sifat Koligatif Lautan yang akan diajarkan, sekaligus melihat
tingkat homogenitas sampel, maka dilakukan perlakuan pengajaran terlebih dahulu
dilkukan evaluasi pendahuluan terhadap seluruh sampel (kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol).
Dari
data pretest diperoleh harga sig 0,000, dimana harga sig < 0,05. Maka
berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa kedua kelas adalah homogen
dengan tingkat kepercayaan 95%. Dalam pengolahan data, hasil rata-rata setiap
kelas dijadikan menjadi sumber data. Data hasil (rata-rata) yang diolah
disajikan berdasarkan media yang digunakan.
Tabel 1. Penguasaan siswa SMA Negeri 3 Pematangsiantar terhadap materi
Sifat Koligatif Larutan berdasarkan hasil evaluasi pendahuluan sebelum
pengajaran.
|
Model
|
Kelompok
|
Pretest
|
|
|
Eksperimen
|
Kontrol
|
||
|
Chemo-Edutainment
|
MT
|
8.000
|
6.833
|
|
MR
|
6.125
|
5.250
|
|
|
Rata-rata
|
7.100
|
6.000
|
|
|
sig
|
0.000
|
0.000
|
|
|
|
|||
|
Powerpoint
|
MT
|
4.625
|
5.417
|
|
MR
|
3.792
|
4.750
|
|
|
Rata-rata
|
4.200
|
5.080
|
|
|
sig
|
0.001
|
0.004
|
|
|
|
|||
|
Ceramah
|
MT
|
5.917
|
6.792
|
|
MR
|
5.042
|
5.958
|
|
|
Rata-rata
|
5.480
|
6.360
|
|
|
sig
|
0.001
|
0.004
|
|
Hasil analisis menunjukkan tidak ada perbedaan
signifikan untuk kedua kelompok perlakuan (sig < 0,05). Dari hasil tersebut
terlihat bahwa siswa masih dapt menjawab soal dengan benar walaupun topik yang
diajukan belum dipelajari.
Pengaruh Pembelajaran berbantuan Komputer terhadap hasil Belajar dan Minat
Belajar
Efektivitas
pembelajaran dengan menggunakan komputer dilihat dari hasil belajar setelah
dilakukan perlakuan pembelajaran untuk pengajaran Sifat Koligatif dan Larutan yaitu berdasarkan pencapaian siswa pada
postest 1 dan postest 2 seperti dirangkum dalam tabel 2.
Tabel 2. Pencapaian hasil belajar siswa SMA Negeri 3 Pematangsiantar pada
Materi Pengajaran Sifat Koligatif dan Larutan berdasarkan hasil postest 1 dan
postest 2 untuk menggunakan medio chemo-edutainment,
media powerpoint, dan metode ceramah.
|
Hasil
Evaluasi
|
|||||
|
Model
|
Kelompok
|
Postest-1
|
Postes-2
|
||
|
Eksperimen
|
Kontrol
|
Eksperimen
|
Kontrol
|
||
|
Chemo-Edutainment
|
MT
|
73.583
|
61.167
|
69.000
|
53.292
|
|
MR
|
51.125
|
43.000
|
45.500
|
36.042
|
|
|
Rata-rata
|
62.680
|
52.640
|
57.580
|
45.120
|
|
|
sig
|
0.000
|
0.001
|
0.000
|
0.001
|
|
|
|
|||||
|
Powerpoint
|
MT
|
68.708
|
59.042
|
65.833
|
51.125
|
|
MR
|
47.833
|
35.875
|
41.875
|
29.458
|
|
|
Rata-rata
|
57.780
|
47.240
|
53.280
|
40.060
|
|
|
sig
|
0.000
|
0.000
|
0.000
|
0.000
|
|
|
|
|||||
|
Ceramah
|
MT
|
55.833
|
56.750
|
62.333
|
50.750
|
|
MR
|
54.167
|
50.417
|
37.792
|
37.250
|
|
|
Rata-rata
|
55.800
|
53.300
|
50.580
|
43.660
|
|
|
sig
|
0.496
|
0.083
|
0.000
|
0.001
|
|
Berdasarkan
hasil belajar yang diperoleh siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan
media chemo-edutainment, dan media powerpoint terlihat bahqa ada
peningkatan hasil belajar jika dibandingkan dengan metode ceramah.
Pada
kelas eksperimen, hasil yang diperoleh pada evaluasi pertama dari penggunaan
media chemo-edutainment mempunyai M=
62,680 dengan harga sig 0,000, media powerpoint
mempunyai M= 57,780 dengan harga sig 0,000 dan metode ceramah mempunyai M =
55,800 dan harga sig 0.495. Berdarkan ini terlihat bahwa penggunaan media Chemo-edutainment lebih efektif
dibandingkan dengan media powerpoint
maupun metode ceramah.
Demikian
juga pada evaluasi kedua, dapat dilihat bahwa hasil yang diperoleh pada
pembelajarn dengan media Chemo-edutainment
lebih efektif jika dibandingkan dengan media powerpoint dan dengan metode ceramah.
Pada
pengolahan data yang dirangkum pada tabel 2. dapat dianalisis bahwa penggunaan
media Chemo-edutainment lebih efektif
meningkatkan minat belajar dibandingkan dengan media powerpoint dan metode
ceramah. Sehingga dapat kita simpulkan, bahwa penggunaan media Chemo-edutainment meningkatkan minat dan
hasil belajar siswa.
Kesimpulan dan Saran
Dari
hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengajaran kimia Sifat Koligatif
Larutan dengan menggunakan media Chemo-edutainment
dan media powerpoint dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Media
komputer memudahkan siswa memahami konsep dasar sifat koligatif kimia karena
memberikan minat belajar kepada siswa. Penyampaian materi pelajaran kimia
menggunakan media komputer seperti media Chemo-edutainment
dan media powerpoint memberikan
kesan pengajaran lebih lama diingat dibandingkan pengajaran dengan metode
ceramah karena penyampaian dengan menggunakan komputer lebih interaktif serta
dapat diulang-ulnag oleh siswa yang mendorong siswa untuk belajar mandiri.
Diharapkan
hendaknya guru kimia menggunakan media komputer untuk penyampaian materi
pelajaran kimia pokok bahasan Sifat
Koligatif Larutan karena sudah terbukti efektif untuk meningkatkan minat
dan hasil belajar siswa. Perlu dipertimbangkan untuk menggunakan media komputer
untuk pengajaran materi pelajaran pada bidang studi lain.
Daftar Pustaka
Baharudin,
(2000). Analisis Kesulitan Siswa
pada Pokok Bahasan Reaksi Reduksi-Oksidasi. Thesis pada Program Pasca Sarjana UPI. Bandung.
Tidak diterbitkan.
Firman,
H., (2000). Beberapa Pokok
Pikiran tentang Pembelajaran Kimia di SLTA. Makalah pada diskusi
Guru Kimia Aliyah Jawa Barat. BPG Bandung. [Online]. Tersedia
: http://www.harryfirman.com. Diakses Mei 2012
Henderleiter,
J. and Pringle, D.L. January, (1999). Effects of Context-Based Laboratory Experiments on Attitudes of
Analytical Chemistry Students.
Journal of Chemical Education. Volume 76 No. 1
Herman, H., (1988), Mengajar Belajar Matematika,
Penerbit P2LPTK Jakarta.
Nana Sudjana, (1987), Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Penerbit
Balai Pustaka Bandung
Sardiman
A. M., (1998), Interaksi
dan Motivasi Belajar
Mengajar, Penerbit CV. Rajawali Jakarta
Supartono.2006. Proposal Hibah A2 Jurusan Kimia. Penerbit FMIPA
UNNES Semarang.
Tim Penyusun
Kamus Pusat
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, (1990) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar