Sabtu, 08 November 2014

ARTIKEL KIMIA

PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBANTUAN KOMPUTER DENGAN MEDIA CHEMO-EDUTAINMENT DALAM UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SIFAT-SIFAT KOLIGATIF LARUTAN
Cianny Avolita Marpaung*
* Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan, Jl Willem Iskandar, Psr V Medan Estate 20221, email: sianidaavolita@gmail.com

Abstrak
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Untuk mengetahui penerapan pembelajaran berbantuan komputer dengan media chemo-edutainment dalam upaya meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada materi sifat-sifat koligatif larutan. (2)Untuk mengetahui penerapan pembelajaran berbantuan komputer dengan media powerpoint dalam upaya meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada materi sifat-sifat koligatif larutan.(3) Untuk mengetahui perbedaan minat dan hasil belajar siswa pada materi pelajaran sifat-sifat koligatif larutan yang disampaikan melalui pembelajaran berbantuan komputer dengan media chemo-edutainment dan media powerpoint bila dibandingkan dengan metode konvensional ceramah. (4)Untuk menemukan langkah dan pengembangan yang tepat yang harus dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran berbantuan komputer dengan media chemo-edutainment dan media powerpoint sehingga skema pembelajaran kimia dapat diperbaiki dalam meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kimia khususnya pada materi sifat-sifat koligatif larutan. Metode penelitian merupakan penelitian eksperimen menggunakan media powerpoint, media chemo-edutainment. Dari hasil pengolahan data disimpulkan penggunan media sangat efektif dalam menningkatkan prestasi hasil belajar siswa. Dan temuan lain dalam penelitian ini adalalah bahwa siswa yang memiliki minat belajar tinggi memiliki prestasi belajar lebih tinggi dibanding siswa yang motivasi belajarnya rendah. Diharapkan dapat menggunakan media berbasis komputer dalam pembelajaran praktikum untuk materi ataupun mata pelajaran lainnya.
Kata Kunci: Media Pembelajaran, Media Cemo-edutainment, Media Powerpoint, Sifat Koligatif Larutan, Hasil Belajar, Minat, siswa SMA

Pendahuluan
Pembaharuan di bidang pendidikan terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama dalam meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif dan berusaha menemukan konsep sendiri dalam proses pembelajaran di semua mata pelajaran termasuk kimia. Guru sebagai fasilitator dan pendorong siswa untuk menggunakan keterampilan proses serta menerapkan inovasi model pembelajaran sehingga pembelajaran kimia mampu mengembangkan life skill yang merupakan implementasi dari kurikulum KTSP.     
            Mutu pendididikan IPA, berkaitan dengan banyak faktor antara lain kompetensi guru, efektivitas proses pembelajaran, ketersediaan fasilitas pendidikan serta tingkat motivasi belajar siswanya.  Mata pelajaran kimia di SMA/MA bertujuan untuk membentuk sikap yang positif pada diri siswa terhadap kimia yaitu merasa tertarik untuk mempelajari kimia lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan perilaku alam serta kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dan penerapannya dalam teknologi. 
            Berdasarkan pengalaman para pendidik, hal yang sering dijumpai adalah bahwa banyak siswa menganggap mata pelajaran kimia sulit dipelajari, sehingga siswa sudah memiliki konsep berfikir kurang mampu untuk mempelajari kimia. Hal ini mungkin disebabkan karena pola penyajian yang kurang menarik, membosankan, sulit dan menakutkan, serta bersifat abstrak, sehingga siswa kurang berminat untuk mempelajarinya.           
            Pada kenyataannya dalam dunia pendidikan memperlihatkan bahwa pembelajaran pada umumnya bersifat ekspositoris, verbalistik dan cenderung hanya menggunakan papan tulis, kurang upaya untuk melakukan demonstrasi, eksperimen dan bentuk peragaan lainnya dalam pembelajaran. Metode mengajar di sekolah dasar sampai perguruan tinggi masih monoton menggunakan metode mengajar secara informatif, pengajar lebih banyak berbicara dan bercerita untuk menginformasikan semua fakta dan konsep sedangkan siswa hanya sebagai obyek pembelajaran saja. Dari fakta tersebut jelas bahwa siswa hanya mendapat sebatas pengetahuan yang nantinya akan terukur dalam penilaian kognitif saja. Padahal dalam pembelajaran siswa dituntut untuk mencapai ketuntasan belajar yang dicerminkan oleh nilai kognitif, nilai afektif dan nilai psikomotorik. Nilai psikomotorik bisa diambil dari nilai praktikum siswa sedangkan afektif dari tingkah laku siswa sehari-hari .
            Salah satu materi pokok yang banyak kaitannya dengan kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dalam silabus kimia adalah Sifat Koligatif Larutan dan Elektrokimia.  Kedua materi tersebut merupakan konsep yang selalu ada dalam kurikulum ilmu kimia. Siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari sifat koligatif larutan dan konsep elektrokimia karena kedua materi tersebut bersifat abstrak (Baharudin, 2000).  Disamping itu pembelajaran kedua materi tersebut yang dilakukan selama ini lebih banyak menggunakan metode ceramah dimana dengan materi yang cukup abstrak, umumnya menjadi beban bagi siswa.  Oleh karena itu, perlu dicari alternatif model pembelajaran yang dapat meminimalkan beban hafalan dan lebih meningkatkan minat belajar pada siswa, yaitu dengan cara pemanfaatan media komputasi.  Sehingga dengan melakukan pembelajaran dengan pemanfaatan media komputasi ini, siswa diharapkan dapat lebih mudah memahami materi sifat koligatif larutan dan konsep elektrokimia.
            Peserta belajar dengan kemampuan yang bervariasi adalah umum dijumpai pada suatu proses pembelajaran.  Kemampuan yang bervariasi dapat berupa perbedaan kesanggupan, keterampilan, intelegensi, potensi dan pengetahuan awal dalam mengikuti proses belajar.  Kemampuan peserta yang bervariasi pada suatu pembelajaran ditunjukkan oleh hasil belajar yang bervariasi.
            Salah satu penyebab kegagalan siswa dalam proses pembelajaran adalah karena siswa tidak pernah dirangsang untuk mencari, menemukan, dan mengeksplorasi sehingga siswa dapat belajar tidak hanya di sekolah namun juga dapat menggunakan alam semesta, lingkungan dan teknologi yang ada di sekitarnya.
            Pemanfaatan media komputasi ini pada dasarnya merupakan suatu cara pembelajaran yang bertujuan untuk menarik minat belajar siswa dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa melalui pengamatan terhadap materi yang ditampilkan melalui gambar-gambar slide pada layar LCD sehingga siswa dapat terlatih untuk mengeluarkan pendapat  berdasarkan pengamatan mereka pada layar LCD.  Dimana menurut Henderleiter, J dan Pringle, DL (1999), dari pengamatan langsung inilah siswa dapat menggali sendiri suatu konsep yang ingin dicapai dalam suatu pembelajaran dan bahkan lebih dari itu, yaitu menimbulkan suatu sikap yang positif terhadap sains (ilmu pengetahuan) disamping tumbuhnya jiwa kooperatif serta  tanggung jawab pada diri siswa, dan dengan demikian hasil belajar siswa-pun akan meningkat.

Pembelajaran Berbantuan Komputer
            Menurut von Glaserfeld, pembelajaran adalah membantu seseorang berfikir secara benar dengan membiarkan berfikir sendiri.  Berfikir yang baik lebih penting daripada mempunyai cara berfikir yang baik, berarti cara berfikirnya dapat digunakan untuk menghadapi suatu fenomena baru, akan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan yang lain.  Siswa yang sekedar menemukan jawaban benar belum pasti dapat memecahkan persoalan baru karena mungkin ia tidak mengerti bagaimana menemukan jawaban itu.
            Pembelajaran bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya.  Pembelajaran berarti partisipasi guru bersama siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikapkritis dan mengadakan justifikasi.  Jadi, pembelajaran adalah suatu bentuk belajar sendiri.
            Komputasi sebenarnya dapat diartikan sebagai cara untuk menemukan pemecahan masalah dari data input dengan menggunakan suatu algoritma.  Sedangkan kimia komputasi adalah cabang kimia yang menggunakan hasil kimia teori yang diterjemahkan ke dalam program komputer untuk menghitung sifat-sifat molekul dan perubahannya maupun melakukan simulasi terhadap sistem-sistem besar (makromolekul seperti protein atau sistem  banyak molekul seperti gas, cairan, padatan, dan kristal cair), dan menerapkan program tersebut pada sistem kimia nyata.  Istilah kimia komputasi kadang-kadang digunakan juga untuk bidang-bidang tumpang tindih antara ilmu komputer dan kimia (Wikipedia).
            Penggunaan komputer dalam pembelajaran kimia sangat menguntungkan karena dapat memberikan kesempatan yang luas kepada siswa dan guru untuk mengembangkan kemampuannya dalam investigsi dan analisis sekaligus dapat membentuk pengetahuan dan pemahaman yang baru dalam melihat suatu permasalahan, serta mendapatkan cara pemecahan masalah melalui pembelajaran. (Hamda Situmorang, 2006). Sebagai media pendidikan, penggunaan komputer bertujuan untuk membantu proses pembelajaran agar materi pelajaran mudah dicerna dan diingat, sehingga memberikan kesan pmbelajaran yang lebih lama.
Media Chemo-Edutainment
            Chemo-edutainment, merupakan suatu proses belajar mengajar kimia yang dikemas ke dalam media yang inovatif dan menghibur (Supartono, 2006: 12). Media chemo-edutainmen merupakan salah satu pendekatan  pembelajaran  kimia  yang mana  di dalamnya dimasukkan unsur-unsur yang bersifat menghibur  sehingga  dalam  belajar  kimia  siswa merasa senang. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan memasukkan kalimat-kalimat yang agak lucu, satire, ataupun  dengan ilustrasi yang lucu tetapi tetap memperhatikan  aspek  kimia  yang  sedang  dibahas. Dengan penggunaan media komputer dalam  pembelajaran chemo-edutainment tersebut dapat dimasukkan unsur musik dan juga animasi-animasi yang akan semakin menarik minat belajar siswa. Timbulnya rasa senang ini akan mendorong siswa untuk belajar kimia secara lebih mendalam (Priatmoko,  2007:3). Pada  akhirnya  diharapkan hasil  belajar  yang  dicapai  oleh  siswa  lebih meningkat dibanding sebelumnya.
Media Powerpoint
            Microsoft Power Point merupakan sebuah software yang dibuat dan dikembangkan oleh perusahaan Microsoft, dan merupakan salah satu program berbasis multi media (Sry, 2009). Didalam komputer, biasanya program ini sudah dikelompokkan dalam program Microsoft Office. Program ini dirancang khusus untuk menyampaikan presentasi, baik yang diselenggarakan oleh perusahaan, pemerintahan, pendidikan, maupun perorangan, dengan berbagai fitur menu yang mampu menjadikannya sebagai media komunikasi yang menarik.
            Beberapa hal yang menjadikan media ini menarik untuk digunakan sebagai alat presentasi adalah berbagai kemampuan pengolahan teks, wana, dan gambar, serta animasi-animasi yang bisa diolah sendiri sesuai kreatifitas penggunanya. Pada prinsipnya program ini terdiri dari beberapa unsur rupa, dan pengontolan operasionalnya. Unsur rupa yang dimaksud, terdiri dari slide, teks, gambar dan bidang-bidang warna yang dapat dikombinasikan dengan latar belakang yang telah tersedia. Unsur rupa tersebut dapat kita buat tanpa gerak, atau dibuat dengan gerakan tertentu sesuai keinginan kita. Seluruh tampilan dari program ini dapat kita atur sesuai keperluan, apakah akan berjalan sendiri sesuai timing yang kita inginkan, atau berjalan secara manual, yaitu dengan mengklik tombol mouse. Biasanya jika digunakan untuk penyampaian bahan ajar yang mementingkan terjadinya interaksi antara peserta didik dengan tenaga pendidik, maka kontrol operasinya menggunakan cara manual.
Minat dan Hasil Belajar
            Secara  bahasa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990) minat  berarti  “kecenderungan  hati  yang  tinggi terhadap sesuatu. Minat merupakan sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat besar sekali pengaruhnya terhadap kegiatan seseorang sebab dengan minat ia akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu.
            Sardiman A. M (1998), berpendapat bahwa minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi  yang  dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau  kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
            Sedangkan belajar menurut bahasa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990) adalah usaha (berlatih) dan sebagai upaya mendapatkan kepandaian. Sedangkan menurut istilah yang dipaparkan oleh beberapa ahli, belajar adalah “Suatu proses di mana  suatu tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki  melalui  serentetan  reaksi  atas  situasi  (atau  rangsang)  yang terjadi.
            Nana Sudjana (Sudjana, 1987) mengatakan, belajar adalah proses  yang aktif, belajar adalah mereaksi  terhadap semua situasi  yang  ada  di  sekitar individu. Belajar  adalah  proses  yang  diarahkan  kepada  tujuan,  proses berbuat  melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu.
            Berdasarkan pengertian minat dan belajar yang telah diuraikan, maka dapt disimpulkan bahwa minat belajar adalah sesuatu keinginan atau kemauan yang disertai perhatian dan keaktifan  yang disengaja yang akhirnya melahirkan rasa senang  dalam perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan.
            Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku merupakan proses belajar sedangkan perubahan tingkah laku yang diamati dan diukur merupakan hasil belajar. Hasil belajar dan proses belajar saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Didalam belajar terjadi proses berpikir. Seseorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan mental. Dalam kegitan mental itu orang menyusun hubungan-hubungan antara bagian informasi yang telah diperoleh sebagai pengertian dan inilah yang dinamakan hasil belajar. Menurut Herman Hudojo (1988: 144) bahwa “Hasil belajar adalah penguasaan hubungan-hubungan yang telah diperoleh sehinggga orang itu dapat menampilkan pengalaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari”.
            Hasil belajar siswa adalah merupakan hasil belajar yang diperoleh siswa dari usaha-usaha yang dilakukan siswa dalam mempelajari pelajaran tertentu. Pada umumnya hasil belajar merupakan salah satu indikator keberhasilan siswa, keberhasilan mengajar guru serta kualitas sekolah yang dapat diukur dengan skor atau nilai. Dari pengertian hasil belajar diatas dapat dinyatakan bahwa hasil belajar merupakan suatu tingkat penguasaan siswa terhadap pelajaran yang diperoleh dengan cara usaha atau keuletan baik secara individu maupun kelompok.

Sifat-sifat Koligatif Larutan
            Salah satu cara menyatakan konsentrasi larutan adalah kemolaran (M).  Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan.  Satuan kemolaran adalah mol/L, dengan rumusan : M = n/V
            Pada pembahasan sifat koligatif, digunakan dua jenis konsentrasi yang lain yaitu : (a) Kemolalan (m), (b) Fraksi Mol (X)
            Sifat koligatif larutan adalah sifat-sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut, melainkan hanya bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarutnya.  Istilah koligatif berasal dari bahasa Latin yang berarti kolega atau kelompok.  Sifat koligatif meliputi penurunan tekanan uap (ΔP), kenaikan titik didih (ΔTb), penurunan titik beku (ΔTb) dan tekanan osmotik (Ï€). 
            Zat terlarut dengan jumlah mol yang sama tidak selalu menghasilkan jumlah partikel yang sama di dalam larutan.  Adakalanya beberapa molekul atau partikel  zat terlarut mengelompok, sehingga jumlah partikel menjadi lebih sedikit dari yang diperkirakan.  Di lain pihak, khususnya untuk larutan elektrolit, jumlah partikel di dalam larutan akan lebih banyak karena zat elektrolit terurai menjadi ion-ion.  Jadi, sifat koligatif larutan elektrolit akan berbeda dengan sifat koligatif larutan nonelektrolit, meski jumlah mol zat terlarutnya sama.
Metode Penelitian
            Sebagai populasi adalah siswa SMA Negeri 3 Pematangsiantar kelas XII IPA. Sampel siswa dipilih dari 6 kelah seanyak 2 kelas secara simple random sampling. Instrumen penelitian adalah media komputer dan media konvensional ceramah sebagai kontrol. Alat pengumpul data adalah evaluasi belajar (soal-soal kimia berbentuk pilihan berganda) teridir atas (1) evaluasi pendahuluan, (2) evaluasi akhir pertama, dan (3) evaluasi akhir kedua.
            Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Class-room Action Research) yang mengikuti prosedur penelitian yang direncanakan mencakup kegiatan Perencanaan (Planning); Tindakan (Action); Observasi (Observation); Refleksi (Reflektion) atau evaluasi.
            Data berupa hasil belajar siswa (skor) yang diperoleh dari hasil evaluasi untuk kelompok eksperimen pengajaran menngunakan media chemo-edutainment, dan kelompok kontrol yang diberikan pengajara menggunakan Metode Ceramah tanpa disertai dengan penggunaan media pembelajaran selanjutnya akan dikelolah secara statistik menggunkan software SPSS untuk menarik kesimpulan. Data akan ditabulasi berdasarkan sumber, dan hasil analisis akan dirangkum dalam bentuk tabel untuk memudahkan di dalam penarikan kesimpulan  hasil penelitian.

Hasil dan Pembahasan
Hasil dan Pembahasan
Pencapaian siswa Pada Evaluasi Pendahuluan dan Uji Homogenitas Sampel
            Agar hasil penelitian yang diharapkan dapat tercapai, telah dilakukan penelitian di kelas XII SMA Negeri 3 Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia. Pemilihan sampel dilakukan secara simple random sampling, yaitu diambil secara acak dari 6 kelas XII IPA sebanyak 2 kelas sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen. Jumlah sampel di setiap kelas ada 50 siswa.
            Untuk mengukur kemampuan pengetahuan siswa dan tingakt penguasaan materi  terhadap materi Sifat Koligatif Lautan yang akan diajarkan, sekaligus melihat tingkat homogenitas sampel, maka dilakukan perlakuan pengajaran terlebih dahulu dilkukan evaluasi pendahuluan terhadap seluruh sampel (kelompok eksperimen dan kelompok kontrol).
            Dari data pretest diperoleh harga sig 0,000, dimana harga sig < 0,05. Maka berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa kedua kelas adalah homogen dengan tingkat kepercayaan 95%. Dalam pengolahan data, hasil rata-rata setiap kelas dijadikan menjadi sumber data. Data hasil (rata-rata) yang diolah disajikan berdasarkan media yang digunakan.

Tabel 1. Penguasaan siswa SMA Negeri 3 Pematangsiantar terhadap materi Sifat Koligatif Larutan berdasarkan hasil evaluasi pendahuluan sebelum pengajaran.
Model
Kelompok
Pretest
Eksperimen
Kontrol
Chemo-Edutainment
MT
8.000
6.833
MR
6.125
5.250
Rata-rata
7.100
6.000
sig
0.000
0.000

Powerpoint
MT
4.625
5.417
MR
3.792
4.750
Rata-rata
4.200
5.080
sig
0.001
0.004

Ceramah
MT
5.917
6.792
MR
5.042
5.958
Rata-rata
5.480
6.360
sig
0.001
0.004

Hasil analisis menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan untuk kedua kelompok perlakuan (sig < 0,05). Dari hasil tersebut terlihat bahwa siswa masih dapt menjawab soal dengan benar walaupun topik yang diajukan belum dipelajari.


Pengaruh Pembelajaran berbantuan Komputer terhadap hasil Belajar dan Minat Belajar
            Efektivitas pembelajaran dengan menggunakan komputer dilihat dari hasil belajar setelah dilakukan perlakuan pembelajaran untuk pengajaran Sifat Koligatif dan Larutan yaitu berdasarkan pencapaian siswa pada postest 1 dan postest 2 seperti dirangkum dalam tabel 2.


Tabel 2.   Pencapaian hasil belajar siswa SMA Negeri 3 Pematangsiantar pada Materi Pengajaran Sifat Koligatif dan Larutan berdasarkan hasil postest 1 dan postest 2 untuk menggunakan medio chemo-edutainment, media powerpoint, dan metode ceramah.
Hasil Evaluasi
Model
Kelompok
Postest-1
Postes-2
Eksperimen
Kontrol
Eksperimen
Kontrol
Chemo-Edutainment
MT
73.583
61.167
69.000
53.292
MR
51.125
43.000
45.500
36.042
Rata-rata
62.680
52.640
57.580
45.120
sig
0.000
0.001
0.000
0.001

Powerpoint
MT
68.708
59.042
65.833
51.125
MR
47.833
35.875
41.875
29.458
Rata-rata
57.780
47.240
53.280
40.060
sig
0.000
0.000
0.000
0.000

Ceramah
MT
55.833
56.750
62.333
50.750
MR
54.167
50.417
37.792
37.250
Rata-rata
55.800
53.300
50.580
43.660
sig
0.496
0.083
0.000
0.001

            Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan media chemo-edutainment, dan media powerpoint terlihat bahqa ada peningkatan hasil belajar jika dibandingkan dengan metode ceramah.
            Pada kelas eksperimen, hasil yang diperoleh pada evaluasi pertama dari penggunaan media chemo-edutainment mempunyai M= 62,680 dengan harga sig 0,000, media powerpoint mempunyai M= 57,780 dengan harga sig 0,000 dan metode ceramah mempunyai M = 55,800 dan harga sig 0.495. Berdarkan ini terlihat bahwa penggunaan media Chemo-edutainment lebih efektif dibandingkan dengan media powerpoint maupun metode ceramah.
            Demikian juga pada evaluasi kedua, dapat dilihat bahwa hasil yang diperoleh pada pembelajarn dengan media Chemo-edutainment lebih efektif jika dibandingkan dengan media powerpoint dan dengan metode ceramah.
            Pada pengolahan data yang dirangkum pada tabel 2. dapat dianalisis bahwa penggunaan media Chemo-edutainment lebih efektif meningkatkan minat belajar dibandingkan dengan media powerpoint dan metode ceramah. Sehingga dapat kita simpulkan, bahwa penggunaan media Chemo-edutainment meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

Kesimpulan dan Saran
            Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengajaran kimia Sifat Koligatif Larutan dengan menggunakan media Chemo-edutainment dan media powerpoint  dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Media komputer memudahkan siswa memahami konsep dasar sifat koligatif kimia karena memberikan minat belajar kepada siswa. Penyampaian materi pelajaran kimia menggunakan media komputer seperti media Chemo-edutainment dan media powerpoint memberikan kesan pengajaran lebih lama diingat dibandingkan pengajaran dengan metode ceramah karena penyampaian dengan menggunakan komputer lebih interaktif serta dapat diulang-ulnag oleh siswa yang mendorong siswa untuk belajar mandiri.
            Diharapkan hendaknya guru kimia menggunakan media komputer untuk penyampaian materi pelajaran kimia pokok bahasan Sifat Koligatif Larutan karena sudah terbukti efektif untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Perlu dipertimbangkan untuk menggunakan media komputer untuk pengajaran materi pelajaran pada bidang studi lain.

Daftar Pustaka
Baharudin,  (2000).  Analisis Kesulitan Siswa pada Pokok Bahasan Reaksi Reduksi-Oksidasi.  Thesis pada Program Pasca Sarjana UPI.  Bandung.  Tidak diterbitkan.

Firman, H.,  (2000).  Beberapa Pokok Pikiran tentang Pembelajaran Kimia di SLTA.  Makalah pada diskusi Guru Kimia Aliyah Jawa Barat.  BPG Bandung.  [Online].  Tersedia : http://www.harryfirman.com. Diakses Mei 2012

Henderleiter, J. and Pringle, D.L.  January, (1999).  Effects of Context-Based Laboratory Experiments on Attitudes of Analytical Chemistry Students.  Journal of Chemical Education.  Volume 76 No. 1

Herman, H., (1988), Mengajar Belajar Matematika, Penerbit P2LPTK Jakarta.

Nana Sudjana, (1987), Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Penerbit Balai Pustaka Bandung

Sardiman  A.  M., (1998), Interaksi  dan  Motivasi Belajar  Mengajar,  Penerbit  CV.  Rajawali Jakarta

Supartono.2006. Proposal Hibah A2 Jurusan Kimia. Penerbit FMIPA UNNES Semarang.

Tim  Penyusun  Kamus  Pusat  Pengembangan  dan  Pembinaan  Bahasa, (1990)  Kamus  Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar