Sabtu, 08 November 2014

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERDASARKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING


1.      Pengertian Model PBL (Problem Based Learning)
Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning/PBL) adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. Model pembelajaran ini pada dasarnya mengacu kepada pembelajaran-pembelajaran mutakhir lainnya seperti pembelajaran berdasar proyek (project based instruction), pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience based instruction), pembelajaran autentik (authentic instruction), dan pembelajaran bermakna.
Model PBL adalah pola pengajaran yang berorientasi masalah dimana guru memberikan berbagai masalah, pertanyaan dan memfasilitasi investigasi dan dialog. Hal terpenting dalam proses PBL yaitu guru menyediakan scaffolding-perancah atau kerangka pendukung yang meningkatkan inquiry (penyelidikan) dan pertumbuhan intelektual (Arends, 2008).
Di dalam buku psikologi pendidikan menurut Ellis (2008), model PBL adalah pola pengajaran yang menggunakan cara transfer pengetahuan dan keterampilan yang telah ada untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab atau situasi yang sulit.
2.      Landasan Teoritis
Adapun landasan teori yang mendukung model pembelajaran PBL yaitu psikologi kognitif serta teori konstruktivis. Psikologi kognitif menekankan pada apa yang mereka pikirkan (kognisi mereka) bukan pada apa yang sedang mereka dikerjakan siswa (perilaku mereka) (Arends, 2008). Teori-teori konstruktivis, menekankan pada kebutuhan pelajar untuk menginvestigasi lingkungan dan mengkonstruksikan pegetahuan yang secara personal.
3.      Pemilihan Materi Pelajaran pada Model PBL
Terdapat beberapa kriteria dalam pemilihan pelajaran yang cocok untuk digunakan pada PBL, diantaranya (Gulo, 2008 : 114) :
1.    Bahan/materi pelajaran dapat bersifat conflict issue atau kontroversial. Bahan itu dapat direkam dari peristiwa-peristiwa konkret dalam bentuk audio visual atau kliping atau disusun sendir oleh guru
2.    Bahan yang dipilih bersifat umum sehingga tidak terlalu asing bagi siswa
3.    Bahan tersebut mencakup kepentingan orang banyak sehingga tidak terlalu asing bagi siwa
4.    Bahan tersebut mendukung tujuan pengajaran dan pokok bahasan dalam kurikulum sekolah
5.    Bahan tersebut merangsang perkembangan kelas yang mengarah pada tujuan yang dikehendaki
6.    Bahan tersebut menjamin berlanjutnya pengalaman belajar siswa
4.      Ciri dan Karakteristik Pembelajaran Berdasarkan  Masalah
Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) memiliki beberapa ciri dan karakteristik sebagai berikut:
1.      Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik dan menghindari pembelajaran terisolasi
2.      Berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
3.      Menciptakan pembelajaran interdisiplin,
4.      Penyelidikan masalah autentik yang terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis .
5.      Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
6.      Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
7.      Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil (kooperatif).
8.      Guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing.
9.      Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
10.  Masalah adalah kendaraan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
11.  Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.
5.      Keunggulan Pembelajaran Berdasarkan  Masalah
Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) memiliki beberapa keunggulan, diantaranya: (1) siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut; (2) melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi; (3) pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna; (4) siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajari; (5) menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara siswa; dan (6) pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya sehingga pencapaian ketuntasan belajar siswa dapat diharapkan.
Selain itu, Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) diyakini pula dapat menumbuhkan-kembangkan kemampuan kreatifitas siswa, baik secara individual maupun secara kelompok karena hampir di setiap langkah menuntut adanya keaktifan siswa.
6.      Fase (sintaks) dalam PBL
Ada 5 sintaks (fase) dalam model pembelajaran PBL (Arends, 2008) yaitu :
Fase
Perilaku Guru
Fase 1 : memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada siswa
Guru membahas tujuan pelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah
Fase 2 : mengorganisasikan siswa untuk meneliti
Guru membantu siswa untuk mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahannya
Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok
Guru mendorong siswa untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen dan mencari penjelasan dan solusi
Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat seperti laporan, rekaman video dan model-model dan membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain
Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan


RENCANA  PELAKSANAAN  PEMBELAJARAN
ZAT ADITIF MAKANAN

Mata Pelajaran          :  IPA (Sains)
Kelas / Semester       :   VII / 2
Alokasi Waktu          :  2 x 45 menit
  Standar Kompetensi  : Memahami Kegunaan Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari – Hari
  Kompetensi dasar      : Mengidentifikasi bahan kimia alami dan buatan (dalam kemasan) yang terdapat dalam bahan makanan (pewarna, pemanis, pengawet, dan penyedap) di sekitar kita
Indikator                    : 
  1. Mengidentifikasi bahan-bahan kimia buatan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, bahan pemanis, bahan pengawet dan bahan penyedap
I.    Tujuan:
     Setelah kegiatan pembelajaran selesai siswa diharapkan dapat;
  1. Mengidentifikasi bahan-bahan kimia buatan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, bahan pemanis, bahan pengawet dan bahan penyedap

II.     Materi Ajar       : 
         Zat Aditif Alami dan Buatan
III.    Metode pembelajaran:
  • Penyampaian informasi
  • Diskusi
  • Demonstrasi
Model pembelajaran menggunakan Model PBL

IV.        Skenario Pembelajaran

NO
KONSEP YANG
FASE
AKTIVITAS KEGIATAN BELAJAR
ALOKASI
DIAJARKAN
KEGIATAN
SISWA
GURU
WAKTU
1
Zat Aditif Makanan
Kegiatan awal

Apersepsi


Fase 1 :
Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada siswa
Siswa berdoa, menjawab salam dan menjawab guru ketika diabsen.
Siswa memperhatikan tujuan belajar yaitu dapat Mengidentifikasi bahan-bahan kimia buatan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, bahan pemanis, bahan pengawet dan bahan penyedap serta memperhatikan sejumlah gambar yang ditunjukkan oleh guru.

Guru mengajak siswa berdoa, memberi salam dan mengabsen siswa.
Guru menyiapkan siswa untuk belajar, dengan cara menjelaskan tujuan pelajaran dengan memberikan handout kepada setiap siswa dan menampilkan suatu permasalahan dengan menunjukkan gambar sejumlah produk-produk makanan, minuman, gambar manusia yang menderita penyakit tertentu yang disebabkan mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet, pewarna penyedap kimia menggunakan infocus.
Guru memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan PBL dengan memberitahu siswa bahwa materi yang disampaikan sangat berguna dan erta kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
15’
2
Kegiatan inti
 
Fase 2 : mengorganisasikan siswa untuk meneliti
1.     Siswa membentuk tim-tim belajar sesuai arahan dari guru
2.     Siswa di dalam tim belajarnya menanyakan informasi yang belum dimengerti dengan baik mengenai zat aditif makanan kepada guru
1.   Guru membagi siswa ke dalam tim-tim belajar secara heterogen berdasarkan jenis kelamin dan tingkat kecerdasan dimana tiap tim belajar diberikan topik pelajaran yang berbeda, mengenai zat aditif makanan : ada  yang mencari pewarna, pemanis, pengawet, penyedap alami yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari dan bisa  digunakan untuk kehidupan sehari-hari tanpa menggunakan bahan kimia.
2.   Guru memberikan informasi kepada siswa di dalam tim-tim belajarnya
70’
3
Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok
1.    Siswa melaksanakan observasi, wawancara dengan keluarganya sendiri atau di super market mengenai zat aditif makanan yang pernah digunakan atau yang terdapat dalam makanan dalam kemasan.
2.    Siswa melaksanakan eksperimen dengan terhadap fenomena yang mereka temukan dan melaksanakannya sesuai waktu  perencanaan serta mencari penjelasan pendukung melalui media cetak, maupun elektronil.
3.    Siswa membuat hipotesis sementara dari fenomena yang mereka temukan.
4.    Siswa berusaha mencari penjelasan dan solusi lewat media yang dicontohkan oleh guru.
1.  Guru memberikan bimbingan dan mendorong siswa untuk mendapatkan informasi yang tepat seperti mengumpulkan data dengan observasi dan wawancara dengan keluarga; bila di rumah pada waktu  memasak apakah ada  menggunakan pewarna, pemanis, pengawet atau penyedap alami atau bukan. Atau pergi ke super market untuk melakukan observasi menemukan zat aditif pada makanan dalam kemasan yang dapat dilihat pada komposisi zat yang terkandung.
2.  Guru memberikan cara bagi siswa mencari penjelasan lewat media cetak seperti Koran, ataupun media elektronik seperti internet
3.  Guru membantu siswa membuat hipotesis sementara
4.  Guru memberikan waktu perencanaan kepada tim-tim belajar untuk menyelesaikan penemuannya dan mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi melalui media cetak dan media elektonik seperti yang dijelaskan sebelumnya.
4
Kegiatan akhir
Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit
1.     Siswa merencanakan dan menyiapkan bahan-bahan alami yang tepat digunakan sebagai zat aditif makanan alami untuk dipamerkan di ruang kelas
2.     Siswa menyampaikan kegunaan bahan-bahan yang dipamerkan di depan kelas.
1.  Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan bahan-bahan yang tepat digunakan sebagai zat aditif makanan alami untuk dipamerkan di depan kelas.
2.   Guru membantu siswanya menyampaikan kegunaan bahan-bahan alami yang dipamerkan di ruang kelas.
5
Kegiatan akhir

1.   Membuat kesimpulan

2.      Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah
1.    Siswa merefleksi hasil investigasinya serta proses-proses yang mereka gunakan
2.    Siswa membuat kesimpulan dari hasil belajar mereka
3.    Siswa mengerjakan soal untuk menguji kompetensi mengenai zat aditif makanan
1. Guru membantu siswa melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan.
2. Guru membuat kesimpulan bersama siswa
3.   Guru mengevaluasi kompetensi siswa terhadap pembelajaran zat aditif makanan
5’
V.   Alat / Bahan / Sumber Belajar  
Buku kimia SMP kelas VII
Infocus
handout
VI.   Penilaian :           Tugas Individu/kelompok
Ulangan Harian

Lampiran Kegiatan
1.      Periksalah label makanan olahan yang dijual di super market atau di rumahmu. Zat aditif apa saja yang terdapat dalam makanan tersebut? Kelompokkanlah sebagai pewarna, pemanis, pengawet atau penyedap rasa (alami atau buatan)?

PENJELASAN
Dengan menggunakan model Pengajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning , kompetensi dasar ini menjadi lebih mudah dipelajari, karena model ini mengajak siswa untuk terlibat langsung dalam menemukan (inkuiri) tujuan pembelajaran yang diharapkan dengan bimbingan guru
Jika ditinjau dari kompetensi dasarnya, kompetensi dasar yang dipilih bersifat conflict issue atau kontroversial. Permasalahan pada kompetensi dasar tersebut dapat direkam dari peristiwa-peristiwa konkret dalam bentuk audio visual atau kliping atau disusun sendiri oleh guru, bersifat umum dan mencakup kepentingan orang banyak sehingga tidak terlalu asing bagi siswa, serta dapat menjamin berlanjutnya pengalaman belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Arends, Richard I, 2008, “Learning to Teach”, edisi ke 7, buku dua, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Hal 57
Ellis, Ormrod Jeanne, 2009, “Psikologi Pendidikan”, edisi ke 6, jilid 1, Erlangga, Jakarta. Hal. 398-402

Gulo, W, 2008, “Strategi Belajar Mngajar”, Grasindo, Jakarta. Hal 114

Tidak ada komentar:

Posting Komentar