1. Pengertian
Model
PBL (Problem Based Learning)
Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning/PBL) adalah suatu
model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai
titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. Model pembelajaran ini pada
dasarnya mengacu kepada pembelajaran-pembelajaran mutakhir lainnya seperti
pembelajaran berdasar proyek (project based instruction), pembelajaran
berdasarkan pengalaman (experience based instruction), pembelajaran
autentik (authentic instruction), dan pembelajaran bermakna.
Model PBL adalah pola pengajaran
yang berorientasi masalah dimana guru memberikan berbagai masalah, pertanyaan
dan memfasilitasi investigasi dan dialog. Hal terpenting dalam proses PBL yaitu
guru menyediakan scaffolding-perancah atau kerangka pendukung yang meningkatkan
inquiry (penyelidikan) dan pertumbuhan intelektual (Arends, 2008).
Di dalam buku psikologi pendidikan
menurut Ellis (2008), model PBL adalah pola pengajaran yang menggunakan cara
transfer pengetahuan dan keterampilan yang telah ada untuk menjawab pertanyaan
yang belum terjawab atau situasi yang sulit.
2. Landasan
Teoritis
Adapun landasan teori yang mendukung model pembelajaran
PBL yaitu psikologi kognitif serta teori konstruktivis. Psikologi kognitif
menekankan pada apa yang mereka pikirkan (kognisi mereka) bukan pada apa yang
sedang mereka dikerjakan siswa (perilaku mereka) (Arends, 2008). Teori-teori
konstruktivis, menekankan pada kebutuhan pelajar untuk menginvestigasi lingkungan
dan mengkonstruksikan pegetahuan yang secara personal.
3. Pemilihan
Materi Pelajaran pada Model PBL
Terdapat beberapa kriteria dalam pemilihan pelajaran yang cocok untuk
digunakan pada PBL, diantaranya (Gulo, 2008 : 114) :
1.
Bahan/materi
pelajaran dapat bersifat conflict issue atau kontroversial. Bahan itu dapat
direkam dari peristiwa-peristiwa konkret dalam bentuk audio visual atau kliping
atau disusun sendir oleh guru
2.
Bahan
yang dipilih bersifat umum sehingga tidak terlalu asing bagi siswa
3.
Bahan
tersebut mencakup kepentingan orang banyak sehingga tidak terlalu asing bagi
siwa
4.
Bahan
tersebut mendukung tujuan pengajaran dan pokok bahasan dalam kurikulum sekolah
5.
Bahan
tersebut merangsang perkembangan kelas yang mengarah pada tujuan yang
dikehendaki
6.
Bahan
tersebut menjamin berlanjutnya pengalaman belajar siswa
4.
Ciri dan
Karakteristik Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning) memiliki beberapa ciri dan karakteristik sebagai
berikut:
1.
Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik dan menghindari pembelajaran
terisolasi
2. Berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
3. Menciptakan pembelajaran interdisiplin,
4. Penyelidikan masalah autentik yang terintegrasi dengan
dunia nyata dan pengalaman praktis .
5. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
6. Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa
yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
7. Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil (kooperatif).
8. Guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan
pembimbing.
9. Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan
merangsang pembelajaran
10. Masalah adalah kendaraan untuk pengembangan
keterampilan pemecahan masalah.
11. Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.
5. Keunggulan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem
Based Learning) memiliki
beberapa keunggulan, diantaranya: (1) siswa lebih memahami konsep yang
diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut; (2) melibatkan
secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir siswa yang
lebih tinggi; (3) pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki siswa
sehingga pembelajaran lebih bermakna; (4) siswa dapat merasakan manfaat
pembelajaran sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan
kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa
terhadap bahan yang dipelajari; (5) menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa,
mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap
sosial yang positif diantara siswa; dan (6) pengkondisian siswa dalam belajar
kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya sehingga
pencapaian ketuntasan belajar siswa dapat diharapkan.
Selain itu,
Pembelajaran Berdasarkan Masalah
(Problem Based Learning) diyakini pula dapat
menumbuhkan-kembangkan kemampuan kreatifitas siswa, baik secara individual
maupun secara kelompok karena hampir di setiap langkah menuntut adanya keaktifan
siswa.
6.
Fase
(sintaks) dalam PBL
Ada 5 sintaks (fase) dalam model
pembelajaran PBL (Arends, 2008) yaitu :
|
Fase
|
Perilaku Guru
|
|
Fase
1 : memberikan orientasi tentang
permasalahannya kepada siswa
|
Guru
membahas tujuan pelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik
penting dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah
|
|
Fase
2 : mengorganisasikan siswa untuk
meneliti
|
Guru
membantu siswa untuk mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar
yang terkait dengan permasalahannya
|
|
Fase
3 : membantu investigasi mandiri dan
kelompok
|
Guru
mendorong siswa untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan
eksperimen dan mencari penjelasan dan solusi
|
|
Fase
4 : mengembangkan dan mempresentasikan
artefak dan exhibit
|
Guru
membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat
seperti laporan, rekaman video dan model-model dan membantu mereka untuk
menyampaikannya kepada orang lain
|
|
Fase
5 : menganalisis dan mengevaluasi
proses mengatasi masalah
|
Guru
membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap investigasinya dan
proses-proses yang mereka gunakan
|
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
ZAT
ADITIF MAKANAN
Mata Pelajaran : IPA (Sains)
Kelas / Semester : VII / 2
Alokasi
Waktu : 2 x 45 menit
Standar Kompetensi :
Memahami Kegunaan Bahan
Kimia Dalam Kehidupan Sehari – Hari
Kompetensi dasar :
Mengidentifikasi
bahan kimia alami dan buatan (dalam kemasan) yang terdapat dalam bahan makanan
(pewarna, pemanis, pengawet, dan penyedap) di sekitar kita
Indikator :
- Mengidentifikasi
bahan-bahan kimia buatan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, bahan
pemanis, bahan pengawet dan bahan penyedap
I. Tujuan:
Setelah kegiatan pembelajaran selesai siswa
diharapkan dapat;
- Mengidentifikasi
bahan-bahan kimia buatan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, bahan
pemanis, bahan pengawet dan bahan penyedap
II. Materi
Ajar :
Zat Aditif Alami dan Buatan
III. Metode pembelajaran:
- Penyampaian
informasi
- Diskusi
- Demonstrasi
Model
pembelajaran menggunakan Model PBL
IV.
Skenario Pembelajaran
|
NO
|
KONSEP
YANG
|
FASE
|
AKTIVITAS
KEGIATAN BELAJAR
|
ALOKASI
|
||
|
DIAJARKAN
|
KEGIATAN
|
SISWA
|
GURU
|
WAKTU
|
||
|
1
|
Zat
Aditif Makanan
|
Kegiatan awal
|
Apersepsi
Fase 1 :
Memberikan
orientasi tentang permasalahannya kepada siswa
|
Siswa berdoa,
menjawab salam dan menjawab guru ketika diabsen.
Siswa
memperhatikan tujuan belajar yaitu dapat Mengidentifikasi
bahan-bahan kimia buatan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna, bahan
pemanis, bahan pengawet dan bahan penyedap serta memperhatikan sejumlah
gambar yang ditunjukkan oleh guru.
|
Guru mengajak
siswa berdoa, memberi salam dan mengabsen siswa.
Guru menyiapkan
siswa untuk belajar, dengan cara menjelaskan tujuan pelajaran dengan
memberikan handout kepada setiap siswa dan menampilkan suatu permasalahan
dengan menunjukkan gambar sejumlah produk-produk makanan, minuman, gambar
manusia yang menderita penyakit tertentu yang disebabkan mengkonsumsi makanan
yang mengandung pengawet, pewarna penyedap kimia menggunakan infocus.
Guru
memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan PBL dengan memberitahu siswa
bahwa materi yang disampaikan sangat berguna dan erta kaitannya dengan
kehidupan sehari-hari.
|
15’
|
|
2
|
Kegiatan inti
|
Fase
2 : mengorganisasikan siswa untuk meneliti
|
1. Siswa membentuk
tim-tim belajar sesuai arahan dari guru
2. Siswa di dalam tim
belajarnya menanyakan informasi yang belum dimengerti dengan baik mengenai
zat aditif makanan kepada guru
|
1. Guru membagi siswa
ke dalam tim-tim belajar secara heterogen berdasarkan jenis kelamin dan
tingkat kecerdasan dimana tiap tim belajar diberikan topik pelajaran yang
berbeda, mengenai zat aditif makanan : ada
yang mencari pewarna, pemanis, pengawet, penyedap alami yang ada dalam
kehidupan kita sehari-hari dan bisa
digunakan untuk kehidupan sehari-hari tanpa menggunakan bahan kimia.
2. Guru memberikan
informasi kepada siswa di dalam tim-tim belajarnya
|
70’
|
|
|
3
|
Fase
3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok
|
1. Siswa melaksanakan
observasi, wawancara dengan keluarganya sendiri atau di super market mengenai
zat aditif makanan yang pernah digunakan
atau yang terdapat dalam makanan dalam kemasan.
2. Siswa melaksanakan
eksperimen dengan terhadap fenomena yang mereka temukan dan melaksanakannya
sesuai waktu perencanaan serta mencari penjelasan pendukung melalui media
cetak, maupun elektronil.
3. Siswa membuat
hipotesis sementara dari fenomena yang mereka temukan.
4. Siswa berusaha
mencari penjelasan dan solusi lewat media yang dicontohkan oleh guru.
|
1. Guru memberikan
bimbingan dan mendorong siswa untuk mendapatkan informasi yang tepat seperti
mengumpulkan data dengan observasi dan wawancara dengan keluarga; bila di
rumah pada waktu memasak apakah ada menggunakan pewarna, pemanis, pengawet atau
penyedap alami atau bukan. Atau pergi ke super market untuk melakukan
observasi menemukan zat aditif pada
makanan dalam kemasan yang dapat dilihat pada komposisi zat yang terkandung.
2. Guru memberikan
cara bagi siswa mencari penjelasan lewat media cetak seperti Koran, ataupun media elektronik seperti internet
3. Guru membantu siswa
membuat hipotesis sementara
4. Guru memberikan
waktu perencanaan kepada tim-tim belajar untuk menyelesaikan penemuannya dan
mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi melalui media cetak dan
media elektonik seperti yang dijelaskan sebelumnya.
|
|||
|
4
|
Kegiatan akhir
|
Fase
4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit
|
1. Siswa merencanakan
dan menyiapkan bahan-bahan alami yang tepat digunakan sebagai zat aditif
makanan alami untuk dipamerkan di ruang kelas
2. Siswa menyampaikan
kegunaan bahan-bahan yang dipamerkan di depan kelas.
|
1. Guru membantu
siswa merencanakan dan menyiapkan bahan-bahan yang tepat digunakan sebagai
zat aditif makanan alami untuk
dipamerkan di depan kelas.
2. Guru membantu
siswanya menyampaikan kegunaan bahan-bahan alami yang dipamerkan di ruang
kelas.
|
||
|
5
|
Kegiatan akhir
|
1. Membuat kesimpulan
2.
Fase 5 : menganalisis dan
mengevaluasi proses mengatasi masalah
|
1. Siswa merefleksi
hasil investigasinya serta proses-proses yang mereka gunakan
2. Siswa membuat
kesimpulan dari hasil belajar mereka
3. Siswa mengerjakan
soal untuk menguji kompetensi mengenai zat aditif makanan
|
1. Guru membantu siswa
melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka
gunakan.
2. Guru membuat kesimpulan bersama siswa
3. Guru mengevaluasi
kompetensi siswa terhadap pembelajaran zat aditif makanan
|
5’
|
|
V.
Alat /
Bahan / Sumber Belajar
Buku kimia SMP kelas VII
Infocus
handout
VI.
Penilaian : Tugas Individu/kelompok
Ulangan Harian
Lampiran Kegiatan
1. Periksalah label makanan olahan yang dijual di super
market atau di rumahmu. Zat aditif apa saja yang terdapat dalam makanan
tersebut? Kelompokkanlah sebagai pewarna, pemanis, pengawet atau penyedap rasa
(alami atau buatan)?
PENJELASAN
Dengan menggunakan model Pengajaran
Berbasis Masalah atau Problem Based Learning , kompetensi dasar ini menjadi
lebih mudah dipelajari, karena model ini mengajak siswa untuk terlibat langsung
dalam menemukan (inkuiri) tujuan pembelajaran yang diharapkan dengan bimbingan
guru
Jika ditinjau dari
kompetensi dasarnya, kompetensi dasar yang dipilih bersifat conflict issue atau kontroversial. Permasalahan
pada kompetensi dasar tersebut dapat
direkam dari peristiwa-peristiwa konkret dalam bentuk audio visual atau kliping
atau disusun sendiri oleh guru, bersifat
umum dan
mencakup kepentingan orang banyak sehingga
tidak terlalu asing bagi siswa, serta dapat menjamin berlanjutnya
pengalaman belajar siswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Arends,
Richard I, 2008, “Learning to Teach”, edisi ke 7, buku dua, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta. Hal 57
Ellis, Ormrod Jeanne, 2009,
“Psikologi Pendidikan”, edisi ke 6, jilid 1, Erlangga, Jakarta. Hal. 398-402
Gulo, W, 2008, “Strategi Belajar
Mngajar”, Grasindo, Jakarta. Hal 114
Tidak ada komentar:
Posting Komentar